sdsda
Sabtu, 13 Februari 2016
Rabu, 18 November 2015
Pendirian atau Hati?
Ku tatap lembut pohon didepan kelasku, pohon yang begitu sejuk kelihatannya. Beberapa orang duduk dibawahnya, bercanda tertawa terbahak, bahkan sangat mengganggu diriku yang sedang mempersiapkan diri untuk ulangan. Ini ulangan terakhir disemester 2 ini, sebentar lagi aku akan berada dikelas lain.
Kutatap kearah mereka yang bahkan tidak merasa bersalah dengan suara mereka yang sangat mengganggu. Seseorang tersenyum padaku, aku tatap kebelakang ternyata tidak ada seorangpun di belakangku. Bisa dipastikan dia tersenyum padaku. Ah senyum yang manis bahkan aku tak sanggup membalasnya. Segera aku beranjak masuk kekelasku.
“Vita.” Teriak seseorang sambil berlari kearahku. Ini salah satu hal absurd dikelasku, apa salahnya ketika sampai ketempatku baru memanggilku, toh dia tetap ketempatku. Kutatap wanita cantik yang sekarang berada di depanku saat ini.
“ Pak Drif memanggilmu.” Kata Sania sambil terengah-engah.
Kutatap dalam-dalam wajah Sania bukan karena aku tidak percaya padanya, hanya saja aku ingin memastikan dia tidak akan pingsan karena terengah-engah nya. Kulemparkan senyum kepada Sania sambil berlalu menuju kantor majelis guru. Akhir-akhir ini aku sedang mencoba menjadi orang yang anti-sosial entah kenapa aku sangat terobsesi dengan hal-hal berbau psikolog.
Ku lewati anak laki-laki yang berada dibawah pohon sejuk itu. Anak yang tersenyum padaku beberapa saat yang lalu, berdiri didepanku, membuatku mengurungkan langkahku. Kutatap matanya, seperti ada rasa kesal dimatanya. Dijulurkannya tangannya.
“ Maaf tidak membalas senyum mu.” Ujarnya
Aku tersenyum kecut mendengar perkataannya yang mampu membuatku tau, arti kesal dimatanya.
“ kamu tidak perlu tersenyum untuk orang yang tidak kamu kenal.” Jawabku memegang tangannya dan menurunkan tangannya.
“ Maaf aku harus pergi.” Lanjutku sambil berlalu.
Terdengar riuh dibelakangku.
****
Selama ulangan masih terdengar suara mereka yang berada dibawah pohon itu, benar-benar brutal membolos dijam pelajaran. Akhirnya jam sekolah berakhir.
Ku buka kamarku, ah begitu tenangnya melihat meja belajarku yang rapi. Baru tadi malam aku merapikannya, kemampuanku sanggup berjam-jam belajar membuat meja belajarku menjadi harta bagiku.
Kubuka komputerku, kucari tugas-tugas yang harus dikerjakan. Ku buka akun twitterku, selama berpikir untuk mencoba menjadi anti-sosial aku hanya aktif ditwitter karena menurutku, orang jarang membuka akun media social ini, jadi tidak ada yang melihat jika aku membuat tulisan disini.
Tiba-tiba telepon rumahku berbunyi, aku sangat membenci suara telepon rumah, suaranya begitu horor bagiku. Aku beranjak dari kamarku.
“Vika disini.”
“Hai” suara laki-laki diseberang sana.
“Maaf siapa ya?” tanyaku
“Terimakasih sudah melupakan orang yang tidak kamu balas senyumnya.”
Perkataan itu membuatku sadar siapa yang menelefonku saat ini.
“ Dari mana kamu mendapatkan nomor telefon rumahku?”
“Berikan saja dulu nomor ponselmu, tidakkah kamu berpikir ini sangat menguras pulsaku?” jawabnya dengan nada cepat.
Kusebut nomor ponselku entah kenapa aku percaya dia orang baik.
Hampir satu jam kami berbincang, dia seseorang yang sangat humoris, aku bahkan kagum dengan perjuangannya mendapatkan nomor telepon rumahku dari data disekolah. Begitu banyak waktu yang kuhabiskan untuk berbincang dengannya, mungkin aku semakin nyaman dengannya,atau mungkin dia akan mencampakkanku ketika aku merasa nyaman dengannya, sebagai balasan karena aku tidak membalas senyumnya.
Mulai hari ini libur sekolah dimulai, memang tidak lama hanya dua minggu. Tapi aku pasti sangat merindukan senyumnya, sapaannya saat dikantin, atau bahkan menatap wajahnya yang manis itu.
Beberapa hari setelah libur, tidak ada kabar darinya. Mungkin dia sibuk pikirku. Tapi ternyata sampai libur berakhir Dino tidak menghubungiku. Ini sangat buruk, sangat jarang aku memberikan hatiku untuk orang lain, tapi sekarang aku menyayanginya atau bahkan mencintainya.
Akhirnya ku putuskan untuk move on mungkin memang dia hanya berniat untuk membalaskan kekesalannya karena masalah senyum itu.
Hari pertama masuk sekolah dimulai, saat memasuki pagar kutatap pohon sejuk yang kini sudah dipotong rantingnya, seperti hatiku yang saat ini teriris dengan cara Dino. Sambil tersenyum kecut kutatap pohon itu. Tangan seseorang terasa memukul pundakku. Refleks kutoleh kebelakang, ternyata teman sekelasku yang sangat gendut andra namanya, pantas saja bahuku terasa patah dibuatnya, dirangkulnya pundakku. Andra adalah sahabatku orang yang selalu mendengar setiap keluh kesahku.
“Apa kabar?” tanyanya sambil berjalan disampingku.
“Baik” ujarku, sambil menatap batuan dilapangan.
Ku tatap kedepan, dimeja piket guru, tampak Dino disana. Kucoba untuk tidak menatap wajahnya yang indah itu tapi aku beegitu terhipnotis dengan wajahnya. Saat aku sedang menatap kearahnya, tiba-tiba dia menatap kearahku, ah sangat buruk segera kubuang pandanganku.
Hari ini tidak ada belajar efektif hanya pembagian kelas, membuat para siswa dipulangkan lebih cepat dari seharusnya.
Kuhempaskan tubuhku yang terasa sangat lelah ini di tempat tidurku yang empuk ini, pikiranku menerawang kejadian tadi saat disekolah. Mungkinkah dia melihat diriku tadi.
Telepon ku berdering, ternyata Dino. Sudah sangat lama, bahkan ini terasa seperti untuk pertama kalinya. Mungkin ada sekitar setengah jam kami berbincang.
Semakin hari, Dino semakin intens menghubungiku, tapi perasaanku sudah tidak ada lagi. Haruskah aku mencoba kembali ke situasi beberapa minggu yang lalu.
Dua bulan berlalu sejak pertama kalinya setelah sekian lama Dino tidak menghubungiku itu,, kami semakin dekat. Senyumnya selalu menghiasihari-hariku.
Hari ini aku berniat merapikan barang-barang dikamarku. Ternyata begitu banyak barang-barang yang tidak penting berada dikamarku. Setiap barang ku lihat detail untuk memastikan tidak ada kesalahan nantinya. Aku tertarik untuk membaca buku diaryku sewaktu SMP kelas sembilan. Di akhir buku ada tuisan sebuah perjanjian untuk tidak menerima siapapun menjadilebih dari teman sampai SMA berlalu.
Aku mengingatnya sekarang, perjanjian ini kubuat saat aku merasa sangat frustasi dengan cara seseorang yang meninggalkanku, karena lebih memilih teman dekatku. Ini adalah janjiku, aku harus teguh pendirian.
Malam ini aku berpikir sudah terlalu jauh hubungan ku dengan Dino, bagaimana jika suatu hari dia memintaku untuk menjadi lebih dari seorang teman? Bagaimana aku menjawabnya. Mungkin lebih baik aku memberitahukan sebelum semuanya terjadi, pikirku.
Tapi semua nya terlambat, pagi hari ketika tiba disekolah Dino tampak berdiri didepan pagar, tidak biasanya dia datang sepagi ini. Saat aku menyapanya terlihat senyumnya yang sangat manis menghiasi wajahnya. Tiba-tiba Dino mengeluarkan sebuah coklat. Aku menatapnya bingung, untungnya tidak ada siswa lain yang melihat kami, aku benci jika terkena gossip-gossip.
“vi”
“Iya.”
“Aku sudah lama suka kamu, mungkin ini bukan suka ini sudah berubah jadi sayang. Mungkin memang aku bukan orang yang bisa buat kamu bahagia, tapi bolehkah aku mencoba jadi orang yang berarti untukmu?” ujarnya pelan.
Kutatap wajahnya, ada rasa tidak tega untuk menolaknya, tapi aku sudah teguh pendirian untuk menepati janji yang kubuat sekitar setahun yang lalu, selain itu aku tidak ada rasa dengan Dino, semuanya sudah hilang.
“Maaf Dino aku enggak bisa, aku enggak akan pacaran selama SMA. Jadi maaf.” Ujarku pelan
Kutatap tanah dibawah kakiku, rasa bersalah membuatku tidak berani menatap matanya.
“Vit” panggilnya sambil mengangkat daguku kutatap matanya, masih terlukis senyum diwajahnya.
“Tidak apa kita bisa jadi teman yang baik kalau gitu.” Lanjutnya sambil tersenyum tangannya memegang lembuat tanganku.
Perlakuannya semakin membuatku bersalah. Ya aku jahat, bahkan sangat jahat menolak seseorang yang mungkin memang menyayangiku. Tapi memenuhi janji menurutku lebeih penting.
Kami melalui hari seperti biasa sejak kejadian itu, hingga akhirnya suatu hari aku mendengar Dino jadian dengan seseorang. Aku bahkan tidak mengenal wanita itu, tidak ada cerita dari Dino bahwa dia mempunyai seseorang yang istimewa dihatinya.
Entah kenapa untukmengucapkan selamat sangat sulit rasanya. Mulai saat itu tidak ada telefon darinya, tidak ada messenger darinya, tidak ada sapaan darinya, senyumnya pun tidak lagi untukku. Kehilangan itulah yang kurasakan.
Siang yang panas sehabis olahraga, kuputuskan untuk duduk dibawah pohon sejuk yang kini daunnya sudah rimbun kembali. Kutatap batang pohon itu, banyak luka disana seperti perasaanku yang terluka. Kutatap kearah dahan yang kini dipenuhi daun yang hijau. Mungkin ada saat kita harus menghancurkan perasaan yang ada,berusaha untuk tidak terjadi apa-apa tapi yang sebenarnya perasaan itu tumbuh dan semakin besar, semuanya tertutupi dengan ketakutan untuk tidak diterima, rasa takut untuk dipermainkan,bahkan rasa takut untuk tidak bisa menjadi seorang pendamping yang sempurna.
Kutatap kearah mereka yang bahkan tidak merasa bersalah dengan suara mereka yang sangat mengganggu. Seseorang tersenyum padaku, aku tatap kebelakang ternyata tidak ada seorangpun di belakangku. Bisa dipastikan dia tersenyum padaku. Ah senyum yang manis bahkan aku tak sanggup membalasnya. Segera aku beranjak masuk kekelasku.
“Vita.” Teriak seseorang sambil berlari kearahku. Ini salah satu hal absurd dikelasku, apa salahnya ketika sampai ketempatku baru memanggilku, toh dia tetap ketempatku. Kutatap wanita cantik yang sekarang berada di depanku saat ini.
“ Pak Drif memanggilmu.” Kata Sania sambil terengah-engah.
Kutatap dalam-dalam wajah Sania bukan karena aku tidak percaya padanya, hanya saja aku ingin memastikan dia tidak akan pingsan karena terengah-engah nya. Kulemparkan senyum kepada Sania sambil berlalu menuju kantor majelis guru. Akhir-akhir ini aku sedang mencoba menjadi orang yang anti-sosial entah kenapa aku sangat terobsesi dengan hal-hal berbau psikolog.
Ku lewati anak laki-laki yang berada dibawah pohon sejuk itu. Anak yang tersenyum padaku beberapa saat yang lalu, berdiri didepanku, membuatku mengurungkan langkahku. Kutatap matanya, seperti ada rasa kesal dimatanya. Dijulurkannya tangannya.
“ Maaf tidak membalas senyum mu.” Ujarnya
Aku tersenyum kecut mendengar perkataannya yang mampu membuatku tau, arti kesal dimatanya.
“ kamu tidak perlu tersenyum untuk orang yang tidak kamu kenal.” Jawabku memegang tangannya dan menurunkan tangannya.
“ Maaf aku harus pergi.” Lanjutku sambil berlalu.
Terdengar riuh dibelakangku.
****
Selama ulangan masih terdengar suara mereka yang berada dibawah pohon itu, benar-benar brutal membolos dijam pelajaran. Akhirnya jam sekolah berakhir.
Ku buka kamarku, ah begitu tenangnya melihat meja belajarku yang rapi. Baru tadi malam aku merapikannya, kemampuanku sanggup berjam-jam belajar membuat meja belajarku menjadi harta bagiku.
Kubuka komputerku, kucari tugas-tugas yang harus dikerjakan. Ku buka akun twitterku, selama berpikir untuk mencoba menjadi anti-sosial aku hanya aktif ditwitter karena menurutku, orang jarang membuka akun media social ini, jadi tidak ada yang melihat jika aku membuat tulisan disini.
Tiba-tiba telepon rumahku berbunyi, aku sangat membenci suara telepon rumah, suaranya begitu horor bagiku. Aku beranjak dari kamarku.
“Vika disini.”
“Hai” suara laki-laki diseberang sana.
“Maaf siapa ya?” tanyaku
“Terimakasih sudah melupakan orang yang tidak kamu balas senyumnya.”
Perkataan itu membuatku sadar siapa yang menelefonku saat ini.
“ Dari mana kamu mendapatkan nomor telefon rumahku?”
“Berikan saja dulu nomor ponselmu, tidakkah kamu berpikir ini sangat menguras pulsaku?” jawabnya dengan nada cepat.
Kusebut nomor ponselku entah kenapa aku percaya dia orang baik.
Hampir satu jam kami berbincang, dia seseorang yang sangat humoris, aku bahkan kagum dengan perjuangannya mendapatkan nomor telepon rumahku dari data disekolah. Begitu banyak waktu yang kuhabiskan untuk berbincang dengannya, mungkin aku semakin nyaman dengannya,atau mungkin dia akan mencampakkanku ketika aku merasa nyaman dengannya, sebagai balasan karena aku tidak membalas senyumnya.
Mulai hari ini libur sekolah dimulai, memang tidak lama hanya dua minggu. Tapi aku pasti sangat merindukan senyumnya, sapaannya saat dikantin, atau bahkan menatap wajahnya yang manis itu.
Beberapa hari setelah libur, tidak ada kabar darinya. Mungkin dia sibuk pikirku. Tapi ternyata sampai libur berakhir Dino tidak menghubungiku. Ini sangat buruk, sangat jarang aku memberikan hatiku untuk orang lain, tapi sekarang aku menyayanginya atau bahkan mencintainya.
Akhirnya ku putuskan untuk move on mungkin memang dia hanya berniat untuk membalaskan kekesalannya karena masalah senyum itu.
Hari pertama masuk sekolah dimulai, saat memasuki pagar kutatap pohon sejuk yang kini sudah dipotong rantingnya, seperti hatiku yang saat ini teriris dengan cara Dino. Sambil tersenyum kecut kutatap pohon itu. Tangan seseorang terasa memukul pundakku. Refleks kutoleh kebelakang, ternyata teman sekelasku yang sangat gendut andra namanya, pantas saja bahuku terasa patah dibuatnya, dirangkulnya pundakku. Andra adalah sahabatku orang yang selalu mendengar setiap keluh kesahku.
“Apa kabar?” tanyanya sambil berjalan disampingku.
“Baik” ujarku, sambil menatap batuan dilapangan.
Ku tatap kedepan, dimeja piket guru, tampak Dino disana. Kucoba untuk tidak menatap wajahnya yang indah itu tapi aku beegitu terhipnotis dengan wajahnya. Saat aku sedang menatap kearahnya, tiba-tiba dia menatap kearahku, ah sangat buruk segera kubuang pandanganku.
Hari ini tidak ada belajar efektif hanya pembagian kelas, membuat para siswa dipulangkan lebih cepat dari seharusnya.
Kuhempaskan tubuhku yang terasa sangat lelah ini di tempat tidurku yang empuk ini, pikiranku menerawang kejadian tadi saat disekolah. Mungkinkah dia melihat diriku tadi.
Telepon ku berdering, ternyata Dino. Sudah sangat lama, bahkan ini terasa seperti untuk pertama kalinya. Mungkin ada sekitar setengah jam kami berbincang.
Semakin hari, Dino semakin intens menghubungiku, tapi perasaanku sudah tidak ada lagi. Haruskah aku mencoba kembali ke situasi beberapa minggu yang lalu.
Dua bulan berlalu sejak pertama kalinya setelah sekian lama Dino tidak menghubungiku itu,, kami semakin dekat. Senyumnya selalu menghiasihari-hariku.
Hari ini aku berniat merapikan barang-barang dikamarku. Ternyata begitu banyak barang-barang yang tidak penting berada dikamarku. Setiap barang ku lihat detail untuk memastikan tidak ada kesalahan nantinya. Aku tertarik untuk membaca buku diaryku sewaktu SMP kelas sembilan. Di akhir buku ada tuisan sebuah perjanjian untuk tidak menerima siapapun menjadilebih dari teman sampai SMA berlalu.
Aku mengingatnya sekarang, perjanjian ini kubuat saat aku merasa sangat frustasi dengan cara seseorang yang meninggalkanku, karena lebih memilih teman dekatku. Ini adalah janjiku, aku harus teguh pendirian.
Malam ini aku berpikir sudah terlalu jauh hubungan ku dengan Dino, bagaimana jika suatu hari dia memintaku untuk menjadi lebih dari seorang teman? Bagaimana aku menjawabnya. Mungkin lebih baik aku memberitahukan sebelum semuanya terjadi, pikirku.
Tapi semua nya terlambat, pagi hari ketika tiba disekolah Dino tampak berdiri didepan pagar, tidak biasanya dia datang sepagi ini. Saat aku menyapanya terlihat senyumnya yang sangat manis menghiasi wajahnya. Tiba-tiba Dino mengeluarkan sebuah coklat. Aku menatapnya bingung, untungnya tidak ada siswa lain yang melihat kami, aku benci jika terkena gossip-gossip.
“vi”
“Iya.”
“Aku sudah lama suka kamu, mungkin ini bukan suka ini sudah berubah jadi sayang. Mungkin memang aku bukan orang yang bisa buat kamu bahagia, tapi bolehkah aku mencoba jadi orang yang berarti untukmu?” ujarnya pelan.
Kutatap wajahnya, ada rasa tidak tega untuk menolaknya, tapi aku sudah teguh pendirian untuk menepati janji yang kubuat sekitar setahun yang lalu, selain itu aku tidak ada rasa dengan Dino, semuanya sudah hilang.
“Maaf Dino aku enggak bisa, aku enggak akan pacaran selama SMA. Jadi maaf.” Ujarku pelan
Kutatap tanah dibawah kakiku, rasa bersalah membuatku tidak berani menatap matanya.
“Vit” panggilnya sambil mengangkat daguku kutatap matanya, masih terlukis senyum diwajahnya.
“Tidak apa kita bisa jadi teman yang baik kalau gitu.” Lanjutnya sambil tersenyum tangannya memegang lembuat tanganku.
Perlakuannya semakin membuatku bersalah. Ya aku jahat, bahkan sangat jahat menolak seseorang yang mungkin memang menyayangiku. Tapi memenuhi janji menurutku lebeih penting.
Kami melalui hari seperti biasa sejak kejadian itu, hingga akhirnya suatu hari aku mendengar Dino jadian dengan seseorang. Aku bahkan tidak mengenal wanita itu, tidak ada cerita dari Dino bahwa dia mempunyai seseorang yang istimewa dihatinya.
Entah kenapa untukmengucapkan selamat sangat sulit rasanya. Mulai saat itu tidak ada telefon darinya, tidak ada messenger darinya, tidak ada sapaan darinya, senyumnya pun tidak lagi untukku. Kehilangan itulah yang kurasakan.
Siang yang panas sehabis olahraga, kuputuskan untuk duduk dibawah pohon sejuk yang kini daunnya sudah rimbun kembali. Kutatap batang pohon itu, banyak luka disana seperti perasaanku yang terluka. Kutatap kearah dahan yang kini dipenuhi daun yang hijau. Mungkin ada saat kita harus menghancurkan perasaan yang ada,berusaha untuk tidak terjadi apa-apa tapi yang sebenarnya perasaan itu tumbuh dan semakin besar, semuanya tertutupi dengan ketakutan untuk tidak diterima, rasa takut untuk dipermainkan,bahkan rasa takut untuk tidak bisa menjadi seorang pendamping yang sempurna.
Langganan:
Komentar (Atom)
